Berita neraca per【Champions League Bayern vs Real Madrid】dagangan Hari Ini

  • 时间:
  • 浏览:0

Staf Ahli Bidang Konektivitas, Pengembangan Jasa, dan Sumber Daya Alam Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Raden Edi Prio Pambudi optimis tahun 2021 merupakan momentum emas untuk pemulihan ekonomi nasional.

Nilai ekspor Indonesia ke Palestina, jika dijumlahkan, mencapai USD 11,96 juta sejak periode 2016-2020.

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan jika surplus neraca perdagangan Indonesia pada 2020 yang mencapai USD 21,7 miliar dapat memberikan efek berganda atau multiplier effect negatif di banyak sektor.

Menurut Anak Buah Menko Airlangga ini, dengan pulihnya aktivitas dagang oleh negara mitra otomatis merupakan indikator yang baik untuk memperbaiki neraca dagang Indonesia. Salah satunya dengan menggenjot kinerja ekspor nasional.

"Untuk memperbaiki injury itu Kementerian Perdagangan akan make sure tata kelola di perdagangan, memastikan semua impor barang terutama bahan penolong dan bahan baku ini akan terjadi dengan baik agar pergerakan ekonominya positif," tukas Mendag Lutfi.

Angka tersebut mungkin jadi surplus neraca perdagangan tertinggi Indonesia sejak era reformasi 1998. Namun di sisi lain, pada kuartal III 2020, sektor perdagangan tercatat minus 5,09 persen, serta transportasi dan pergudangan minus 16,7 persen.

Lalu pembentukan modal domestik bruto adalah 33 persen, government expenditure 9-10 persen, dan kemudian ekspor/impor sekitar 34 persen.

Indonesia merupakan salah satu negara yang berhubungan baik dengan Palestina termasuk dalam sektor perdagangan.

Merujuk pada perkembangan impor di 2020, dia melihat komposisi impor bahan baku dan bahan penolong sebesar 72,9 persen. Sementara impor barang konsumsi hanya 10,4 persen, dan barang modal kita 16,7 persen.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), selama periode 2016-2020, neraca perdagangan Indonesia surplus USD 7,6 juta.

Sedangkan indikator atas perbaikan ekonomi dalam negeri tercermin dari meningkatnya kinerja penjualan oleh retail di Februari 2021 lalu. Kemudian sisi produksi juga sudah pada level optimis di kuartal I tahun ini.

"Artinya perdagangan tak jalan. Saya berpendapat kalau ini didiamkan, ini justru bukan sesuatu yang baik, tetapi menjadi sesuatu yang tidak baik," ujar Lutfi dalam sesi teleconference, Rabu (27/1/2021).

Dia bilang, angin segar ini tak lepas dari kian membaiknya berbagai indikator kegiatan ekonomi baik di dalam maupun di luar negeri. Kemudian juga efektifnya pelaksanaan program penanganan pandemi Covid-19 oleh pemerintah.

"Tadi pagi kami sebelum webinar ini, bertemu dengan kepala daerah. Kami mendengarkan daerah pun sudah siap melakukan produksi, yang itu bisa di ekspor.Jadi, kita harapkan ekspor sifatnya mulai meningkat," ungkapnya.

Secara rinci, ekspor Indonesia ke Palestina pada tahun 2016 ialah sebesar USD 2,23 juta, tahun 2017 sebesar USD 2,05 juta, tahun 2018 sebesar USD 2,80 juta, tahun 2019 sebesar USD 2,91 juta, dan tahun 2020 sebesar USD 1,95 juta.

"Jadi kalau domestik consumption kita turun, impor kita turun, ini akan terjadi serombongan yang akan ikut bersama-sama, yaitu tidak terjadi industrialisasi, konsumsi kita tertahan, kemudian penciptaan lapangan kerja kurang. Dan ini merupakan multiplier effect yang sebenarnya negatif," tegasnya.

"Jadi, di indikator ekonomi secara keseluruhan juga sudah menunjukkan hal baik," ucapnya.

Menurut catatannya, impor Indonesia belum menunjukan sesuatu yang positif bagi ekonomi nasional. Dia lalu mengutip rumus produk domestik bruto (GDP) Indonesia saat ini, dimana konsumsi memiliki porsi 50 persen.

Lutfi lantas menganalogikan jika Indonesia saat ini mengalami cedera di saat mengejar pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19. Dia menyatakan hal tersebut musti diperbaiki.

"Kelihatan memang di 2021 ini menjadi peluang yang baik untuk pemulihan. Karena negara-negara sudah mulai pulih kembali. Terutama negara mitra dagang kita itu juga sudah mulai pulih," bebernya dalam webinar bertajuk Prospek Ekonomi dan Bisnis Logistik 2021, Rabu (24/3)

Sedangkan impornya berjumlah total USD 4,36 juta dengan rincian dari tahun 2016 sebesar USD 283.970, tahun 2017 sebesar USD 341.030, tahun 2018 sebesar USD 727.052, tahun 2019 sebesar USD 1,35 juta, dan tahun 2020 sebesar USD 1,64 juta.